ViolaClubINA - Kembalinya Paolo Vanoli ke bangku kepelatihan Fiorentina belum mampu membawa kebangkitan yang diharapkan bagi publik Artemio Franchi. Setelah kekalahan dari Genoa, La Viola kembali harus menelan pil pahit usai ditundukkan Como dengan skor membanting 1-3 dalam lanjutan Serie A. Laga ini tidak hanya diwarnai oleh performa klinis tim tamu yang sedang merintis jalannya, tetapi juga diwarnai insiden kontroversial kepemimpinan wasit serta teknologi VAR yang memicu kekecewaan mendalam bagi para pendukung tuan rumah.
Laga dimulai dengan tempo terbuka dan saling serang sejak peluit pertama dibunyikan. Fiorentina sejatinya sempat mengancam lebih dulu melalui kolaborasi Franco Mastantuono dan Mateo Pellegrino, serta akselerasi Alieu Njie yang menerima umpan matang Pedro Goncalves dan Niccolo Fagioli. Namun, kekokohan lini belakang Como serta pertahanan sigap Jean Butez dan Marc-Oliver Kempf berhasil menggagalkan peluang emas La Viola. Di sisi lain, David De Gea harus bekerja ekstra keras menepis berbagai gempuran bahaya dari lini serang Como.
Kebuntuan akhirnya pecah lewat skema yang memicu perdebatan hangat. Berawal dari perebutan bola kontroversial di mana Kempf tampak melanggar Pedro Goncalves, wasit membiarkan laga terus berjalan hingga berujung pada serangan balik cepat Como. Talenta muda berusia 19 tahun, Mattia Liberali, yang melakoni starter pertamanya di Serie A, melepaskan tembakan melengkung indah dengan kaki kirinya ke pojok bawah gawang De Gea. Gol bersejarah ini menjadikan Liberali pemain Italia pertama yang mencetak gol bagi Como di Serie A sejak Mei 2025. Tak lama berselang, Como menggandakan keunggulan melalui tandukan tajam Nico Paz memanfaatkan umpan silang Alex Valle.
Fiorentina sempat bangkit dan memperkecil kedudukan sebelum turun minum. Marin Pongracic berhasil menyambar bola muntah hasil sundulan Viery untuk mencetak gol pertamanya di Serie A. Puncak drama terjadi di penghujung babak pertama ketika Pongracic kembali menggetarkan jala Como meneruskan umpan tendangan bebas akurat dari Mastantuono. Stadion Franchi sempat bergemuruh merayakan gol penyeimbang, namun selebrasi tersebut berubah menjadi penantian panjang yang melelahkan. Keputusan wasit menggantung selama hampir lima menit akibat gangguan teknis pada sistem Semi-Automatic Offside Technology (SAOT). Penggunaan teknologi garis manual di tengah situasi kotak penalti yang padat membuat proses peninjauan memakan waktu sangat lama hingga akhirnya gol Pongracic dianulir karena offside.
Laga berlanjut ke babak kedua dengan tekanan masif dari skuad asuhan Vanoli untuk mengejar ketertinggalan. Alieu Njie mendapatkan peluang emas setelah lolos dari jebakan offside, tetapi tembakannya hanya mengenai jaring luar gawang yang sudah kosong. Keasyikan menyerang membuat lini pertahanan La Viola kembali lengah. Berawal dari kehilangan bola oleh Pedro Goncalves, Nico Paz mengirimkan umpan terobosan matang kepada Tasos Douvikas yang dengan dingin menaklukkan De Gea di bawah selangkangannya untuk mengubah skor menjadi 3-1.
Usaha Fiorentina untuk menipiskan jarak terus membentur dinding tebal. Peluang emas kembali terbuang ketika tandukan bebas Njie hanya menerpa tiang gawang dari jarak yang sangat dekat, disusul beberapa ancaman tembakan jarak jauh Fagioli yang mampu diamankan Butez. Hingga peluit panjang dibunyikan, skor 1-3 tetap bertahan untuk kemenangan Como. Hasil ini menjadi evaluasi besar bagi Fiorentina untuk segera membenahi efektivitas penyelesaian akhir serta konsentrasi lini pertahanan jelang laga-laga krusial berikutnya. (Sumber: Artikel football-italia.net | Video acffiorentina.com)






