Sign Up
Cover

Sejarah

ViolaClubINA - Sepak bola bukan sekadar pertandingan selama 90 menit di atas lapangan. Bagi sebagian orang, sepak bola adalah bagian dari perjalanan hidup, tempat lahirnya persahabatan, loyalitas, hingga rasa cinta yang sulit dijelaskan dengan logika. Hal inilah yang dirasakan oleh para pendukung ACF Fiorentina di Indonesia. Meski klub asal Florence tersebut berada ribuan kilometer dari Indonesia dan bukan termasuk klub dengan koleksi trofi terbanyak di Italia, kecintaan para tifosi Indonesia terhadap Fiorentina justru tumbuh semakin besar dari waktu ke waktu. Dari keterbatasan teknologi internet di era 2000-an hingga akhirnya mendapat pengakuan resmi langsung dari ACF Fiorentina, perjalanan komunitas Viola Club Indonesia (VCI) menjadi cerita panjang penuh perjuangan, loyalitas, dan semangat persaudaraan.

Kisah ini bermula setelah bubarnya komunitas penggemar Fiorentina edisi 1998. Semangat para pendukung Fiorentina di Indonesia ternyata tidak ikut hilang. Pada tahun 2008, Putra Yanda yang kemudian menjadi Presiden pertama komunitas tersebut mulai mencari sesama penggemar Fiorentina melalui mesin pencari Google dan Yahoo. Saat itu, internet belum secanggih sekarang. Media sosial belum mendominasi kehidupan masyarakat seperti saat ini. Komunikasi antarpenggemar sepak bola dilakukan melalui blog, chatbox, kolom komentar, hingga forum daring seperti Kaskus. Dari sebuah thread sederhana tentang Fiorentina di Kaskus, Putra Yanda bertemu dengan sejumlah orang yang memiliki kecintaan yang sama terhadap klub berjuluk La Viola tersebut.

Komunikasi yang awalnya hanya sebatas komentar perlahan berkembang menjadi obrolan intens melalui Yahoo Messenger. Meski masih berbasis teks tanpa panggilan suara maupun video, hal itu sudah cukup untuk menyatukan para penggemar Fiorentina dari berbagai daerah di Indonesia. Dari obrolan sederhana tersebut muncul ide besar untuk membuat sebuah komunitas resmi penggemar Fiorentina di Indonesia. Pada 1 Juni 2008, belasan pendiri melakukan pertemuan daring melalui Yahoo Messenger. Nama-nama seperti Putra Yanda, Irfan Umar, Deni Iswanto, Tatang Bagus, Wisnu Harsakti, Dimas Ismandhika, Rifki R. Arief hingga beberapa orang lainnya menjadi bagian dari sejarah awal berdirinya komunitas tersebut.

Pada masa awal berdiri, komunitas ini menggunakan nama Fiorentina Fans Club Indonesia atau disingkat FFCI. Nama tersebut dipilih karena dianggap lebih mudah dikenal oleh masyarakat Indonesia saat itu. Bersamaan dengan pembentukan komunitas, mereka juga membuat situs web sendiri sebagai sarana komunikasi antarpenggemar. Kehadiran situs tersebut menjadi langkah penting karena memungkinkan para anggota untuk berbagi informasi seputar Fiorentina, berdiskusi, hingga merencanakan berbagai kegiatan bersama. Dari sinilah lahir kegiatan rutin seperti nonton bareng, fun futsal, hingga gathering nasional yang mempererat hubungan antaranggota.

Perjalanan komunitas ini terus berkembang dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010, Fiorentina Fans Club Indonesia (FFCI) memutuskan melakukan perubahan besar dengan mengganti nama menjadi Viola Club Indonesia (VCI). Pergantian nama tersebut bukan tanpa alasan. Salah satu syarat untuk bergabung dengan Associazione Centro Coordinamento Viola Club (ACCVC), organisasi resmi koordinasi Viola Club di seluruh dunia yang terafiliasi dengan ACF Fiorentina, adalah penggunaan nama “Viola Club”. Sejak saat itu, identitas komunitas semakin kuat dan jumlah anggota terus bertambah dari berbagai daerah di Indonesia.

Gathering Nasional kemudian menjadi salah satu agenda paling penting dalam sejarah perjalanan VCI. Tahun 2012, Gathering Nasional kedua digelar di Cipanas, Bogor, dan menjadi momentum terpilihnya kembali Putra Yanda sebagai Presiden VCI periode 2012–2014. Dua tahun kemudian, Gathering Nasional ketiga diadakan di Kaliurang, Yogyakarta, dan menjadi gathering terbesar dalam sejarah komunitas tersebut. Pada akhir acara, tongkat kepemimpinan berpindah kepada Yosse Agnes yang terpilih secara aklamasi untuk memimpin VCI periode 2014–2018.

Di bawah kepemimpinan Yosse Agnes, VCI tidak hanya berkembang sebagai komunitas suporter biasa, tetapi juga mulai aktif memberikan edukasi kepada anggota mengenai pentingnya menggunakan jersey asli Fiorentina. VCI menegaskan bahwa membeli jersey original bukan hanya soal gaya atau koleksi semata, melainkan bentuk dukungan nyata kepada klub. Edukasi ini menjadi penting karena maraknya peredaran jersey palsu yang merugikan klub maupun para pendukung itu sendiri. Langkah tersebut menunjukkan bahwa VCI ingin menjadi komunitas yang memiliki integritas serta mampu mendukung Fiorentina dengan cara yang benar.

Pada tahun 2018, Gathering Nasional kembali digelar di Kandank Jurank Doank, Tangerang Selatan. Dalam periode ini, VCI juga mempertegas komitmen untuk tidak mendistribusikan siaran ilegal maupun jersey palsu. Komitmen tersebut menjadi bukti bahwa loyalitas terhadap Fiorentina tidak hanya ditunjukkan lewat dukungan di media sosial atau tribun stadion, tetapi juga melalui sikap menghargai hak cipta dan industri sepak bola secara profesional.

Salah satu pencapaian terbesar VCI terjadi pada tahun 2020. Setelah lebih dari sepuluh tahun terkendala birokrasi dan lambatnya respons dari ACCVC, VCI akhirnya memutuskan bergabung dengan Associazione Tifosi Fiorentina (ATF), organisasi penggemar Fiorentina lainnya yang berbasis di Florence. Setelah melewati proses administrasi dan wawancara afiliasi, pada 21 Juni 2020 ATF dalam rilis pers secara resmi berafiliasi serta mengakui VCI sebagai komunitas penggemar Fiorentina pertama dan terbesar di luar Italia yang memiliki lisensi langsung dari ACF Fiorentina. Pengakuan ini menjadi tonggak sejarah yang membanggakan bagi seluruh anggota VCI dan membuktikan bahwa komunitas asal Indonesia mampu mendapat tempat di mata klub besar Eropa.

Meski pandemi COVID-19 sempat menghambat berbagai agenda komunitas, VCI tetap aktif menjalankan kegiatan dan memperkuat eksistensinya. Pada akhir tahun 2021, VCI berhasil memasang banner di Stadion Artemio Franchi, markas kebanggaan Fiorentina di Florence. Pencapaian ini menjadi simbol bahwa suara dan dukungan tifosi Indonesia benar-benar sampai ke Italia. Tahun 2022 juga menjadi momentum penting dengan perubahan logo baru VCI yang mencerminkan semangat segar dan identitas yang semakin kuat sebagai basis penggemar Fiorentina di Indonesia.

Hingga kini, Viola Club Indonesia terus berkembang dengan delapan regional dan puluhan chapter yang tersebar di berbagai daerah. Dengan ratusan anggota resmi, VCI tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya penggemar sepak bola, tetapi juga rumah bagi persahabatan, solidaritas, dan kecintaan terhadap Fiorentina. Dari sekadar obrolan di Yahoo Messenger hingga mendapat pengakuan resmi dari Florence, perjalanan VCI membuktikan bahwa cinta terhadap sepak bola mampu menyatukan banyak orang tanpa batas jarak dan waktu. Perjalanan itu belum berakhir, dan semangat para tifosi Viola di Indonesia akan terus hidup untuk mendukung Fiorentina dalam setiap langkahnya. #ForzaViola