ViolaClubINA - Cerita ini berasal dari Anggana, salah satu anggota Viola Club Indonesia (VCI) Regional Jawa Timur, yang menuturkan pengalaman masa kecilnya dan bagaimana cinta pada Fiorentina lahir dari kejadian sederhana di kampung halaman. Ini bukan sekadar kisah sepak bola, tapi tentang rasa penasaran, persahabatan, tantangan, dan kegigihan seorang anak kecil untuk mengejar mimpi yang unik.
Di kampung kecil di salah satu kabupaten di Jawa Timur, jauh dari hiruk-pikuk kota besar, terdapat sebuah lapangan sekolah yang luas. Lapangan ini menjadi pusat komunitas sepak bola bagi anak-anak dan remaja. Bermain tanpa alas kaki, sendal dijadikan gawang, para pemain muda dan senior berkumpul setiap sore. Ada aturan tidak tertulis: pukul 15.00–16.00 khusus untuk anak-anak sekolah, sedangkan pukul 16.00 hingga adzan magrib untuk mahasiswa dan bapak-bapak. Anggana, yang saat itu berusia 8–9 tahun, selalu menonton para senior bermain dengan kagum, berharap suatu hari bisa menyaingi kemampuan mereka.
Di antara para senior, ada satu sosok yang selalu menarik perhatiannya: Agung, tetangga beberapa rumah dari rumahnya. Meskipun masih SMP kelas 1, sudah menjadi inti tim saat pertandingan antar-kampung dan hampir setiap hari berlatih bersama para senior. Agung menjadi “antagonis” dalam kisahnya, bukan karena permusuhan, tetapi karena kehadirannya membuatku penasaran dan menantangnya untuk mengejar sesuatu yang belum dimengerti.
Suatu sore, Anggana melihat Agung tampil berbeda. Agung mengenakan jersey berwarna ungu dengan logo tim yang asing baginya. Bukan AC Milan, Juventus, Inter, atau Roma, melainkan Fiorentina, dengan nama punggung “ASMOROSO”. Anggana penasaran dan menunggunya selesai bermain. Saat berjalan pulang bersamanya, Anggana memberanikan diri bertanya: “Mas, ini jersey tim mana?” “Fiorentina,” jawabnya singkat. “Trus Asmoroso siapa?” tanya Anggana lagi. “Pemainnya lah, coba cari tahu di majalah Bola atau koran,” jawabnya, tersenyum.
[Baca juga : Terungkap! Nasib Fiorentina Terancam: Vanoli Diambang Pemecatan, Paratici Menanti Keputusan Besar]
Sejak saat itu, setiap Selasa dan Jumat, Anggana menyempatkan diri membaca majalah Bola dan koran yang baru terbit, menelusuri informasi tentang Fiorentina dan Asmoroso. Anggana belajar jadwal pertandingan, sejarah klub, formasi tim, dan hasil laga. Namun, ketika mencari Asmoroso di TV atau majalah, Anggana tak pernah menemukannya. Anggana pun mulai menabung sisa uang jajan untuk membeli jersey Fiorentina.
Perjalanan itu tidak mudah. Kali pertama Anggana menabung cukup, jersey yang dicari ternyata habis. Anggana menangis, tapi tidak menyerah. Seminggu kemudian Anggana kembali ke toko jersey, namun lagi-lagi gagal karena barang sudah habis. Dari pengalaman ini, Anggana belajar kesabaran dan tekad. Menabung dan membeli jersey juga memberinya kesempatan untuk mengoleksi jersey tim lain, baik dari Serie A maupun Liga Inggris. Namun hati tetap tertambat pada Fiorentina.
Baru setelah bergabung dengan Viola Club Indonesia, Anggana akhirnya bisa memiliki jersey Fiorentina yang lama diimpikan. Rasa cinta pada klub ini lahir dari pengalaman masa kecil, dari rasa penasaran dan kegigihan yang sederhana. Pepatah Jawa, “Tresno jalaran soko glibet”, sangat tepat untuk menggambarkan perasaannya: cinta muncul dari kesulitan, dari rasa penasaran yang terus menempel di hati.
Lalu, siapa “Asmoroso” sebenarnya? Ternyata, nama lengkap Mas Agung adalah Agung Asmoro, sedangkan pemain Fiorentina yang dimaksud adalah Cristian Amoroso. Apakah ini kebetulan atau hanya keisengan masa muda? Yang jelas, pengalaman ini menjadi bagian tak terlupakan dalam hidup Anggana, dari seorang anak kampung yang penasaran hingga menjadi anggota Viola Club Indonesia yang bangga mencintai Fiorentina. Sebuah perjalanan dari lapangan kampung ke hati yang penuh cinta pada sepak bola—dan pertanyaan terakhir yang tersisa: bagaimana ceritamu mencintai sepak bola? (Foto @acffiorentina)






