Sign Up
Cover

Paolo Vanoli Kembali ke Fiorentina: Mengapa Juru Selamat Musim Lalu Belum Tentu Bisa Mengulang Mukjizatnya? (Part II)

ACF Fiorentina

Kamis, 10 September 2026

ViolaClubINA - Melanjutkan pembahasan pada Part 1, perubahan besar dalam komposisi skuad Fiorentina tidak hanya berdampak terhadap cara La Viola menyerang. Pergantian pemain juga membawa persoalan serius di sektor pertahanan. Jika kehilangan Kean, Guðmundsson, dan Mandragora membuat Vanoli harus menemukan kembali sumber produktivitas serta kreativitas tim, perubahan di lini belakang menuntut pekerjaan yang tidak kalah rumit: membangun kembali koordinasi dan keseimbangan ketika Fiorentina berada dalam fase bertahan.

9. Pertahanan Juga Belum Bisa Dianggap Beres

Jika lini depan membutuhkan pemain baru untuk menggantikan output gol, pertahanan membutuhkan stabilitas. Fiorentina kebobolan 50 gol dalam 38 pertandingan Serie A musim lalu, atau 1,32 gol per pertandingan. Jadi, meskipun Vanoli berhasil menyelamatkan Fiorentina, bukan berarti ia meninggalkan sistem pertahanan yang sempurna. Bahkan pada masa Vanoli, Fiorentina masih beberapa kali mengalami kebobolan dalam jumlah besar. Kekalahan 4-0 dari Roma pada akhir musim menjadi contoh paling jelas bahwa struktur bertahan mereka masih memiliki titik lemah.

Masalah tersebut kemudian terlihat lebih ekstrem pada awal era Grosso. 3 pertandingan Serie A menghasilkan 9 gol kebobolan. Fiorentina kebobolan 4 kali dari Roma, 3 kali dari Frosinone, dan 2 kali dari Torino. Vanoli kini harus memperbaiki persoalan tersebut dengan komposisi yang juga berubah. Pietro Comuzzo sudah tidak menjadi bagian dari skuad. Sebaliknya, Radu Drăgușin datang sebagai tambahan penting di lini belakang. Luca Ranieri masih menjadi salah satu pemain yang mengenal sistem Vanoli, sementara Dodô tetap dapat menjadi sumber agresivitas dari sisi kanan. Masalahnya bukan sekadar siapa yang bermain. Masalahnya adalah bagaimana mereka menjaga struktur ketika Fiorentina kehilangan bola.

10. Vanoli dan Pentingnya Rest Defence

Jika Fiorentina ingin bermain lebih agresif dengan pemain seperti Mastantuono, Pedro Gonçalves, Gnonto, dan Beto, maka Vanoli harus memperhatikan satu hal yang sangat penting: rest defence. Ketika sebuah tim menyerang dengan banyak pemain, harus ada struktur yang tetap menjaga keseimbangan jika serangan gagal.

Ini berarti ketika Dodô naik, siapa yang menutup ruang di belakangnya? Ketika pemain sayap masuk ke tengah, siapa yang menjaga lebar? Ketika Fagioli maju, siapa yang melindungi dua bek tengah? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi justru menjadi pembeda antara tim yang agresif dan tim yang hanya terbuka. 3 pertandingan Grosso memperlihatkan bagaimana masalah transisi dapat menghukum Fiorentina dengan sangat cepat. Analisis setelah pemecatan Grosso juga menempatkan transisi bertahan, organisasi lini belakang, dan komunikasi sebagai pekerjaan awal yang harus segera diselesaikan Vanoli.

11. Menariknya, Vanoli Sudah Menunjukkan Fleksibilitas

Satu alasan mengapa penunjukan kembali Vanoli tidak sepenuhnya merupakan keputusan nostalgia adalah fleksibilitas taktisnya. Data pertandingan musim lalu menunjukkan bahwa Vanoli tidak terpaku pada satu formasi. Dalam Serie A, 4-3-3 menjadi salah satu struktur yang digunakan dalam periode kepelatihannya, sementara 3-5-2 lebih sering terlihat dalam Conference League. Data BeSoccer mencatat 4-3-3 sebagai formasi yang paling sering digunakan Vanoli bersama Fiorentina.

Ini penting karena komposisi skuad 2026/27 justru memiliki banyak pemain ofensif yang lebih mudah dimaksimalkan melalui sistem dengan tiga penyerang. Mastantuono dapat bermain dari kanan dan bergerak ke dalam. Pedro Gonçalves bisa mengambil posisi di sisi kiri atau bergerak sebagai pemain nomor 10. Gnonto dapat memberikan kecepatan dari sayap. Beto atau Pellegrino dapat menjadi ujung tombak.

Di belakang mereka, Fagioli bisa menjadi salah satu penghubung permainan dengan dukungan gelandang yang lebih atletis. Secara teori, struktur tersebut memberi Vanoli kesempatan membangun Fiorentina yang lebih menyerang. Namun, ada perbedaan antara memiliki opsi dan memiliki sistem. Vanoli sekarang harus mengubah opsi-opsi tersebut menjadi sistem.

12. Jangan Sampai Vanoli Terjebak dalam Nostalgia

Ada bahaya besar dalam penunjukan kembali seorang pelatih yang pernah sukses. Klub bisa saja berharap formula lama otomatis bekerja kembali. Padahal, pemain berubah. Lawan berubah. Situasi berubah. Bahkan target klub berubah. Jika musim lalu Vanoli cukup membuat Fiorentina sulit kalah, sekarang standar tersebut tidak lagi memadai.

Fiorentina memasuki musim dengan ambisi lebih besar dan melakukan investasi besar di pasar transfer. Klub tidak mengeluarkan banyak uang hanya untuk kembali finis di posisi ke-15. Karena itu, Vanoli harus berani berevolusi. Ia tidak boleh mencoba membuat Beto menjadi Kean, Mastantuono menjadi Guðmundsson, atau Atta menjadi Mandragora.

Ia harus membuat Beto menjadi Beto, Mastantuono menjadi Mastantuono, dan Atta menjadi Atta, lalu membangun sistem yang mengeluarkan kemampuan terbaik masing-masing. Inilah perbedaan antara pelatih yang sekadar mengulang sistem dan pelatih yang benar-benar mampu beradaptasi.

[Baca juga : Paolo Vanoli Kembali ke Fiorentina: Mengapa Juru Selamat Musim Lalu Belum Tentu Bisa Mengulang Mukjizatnya? (Part I)]

13. Statistik Vanoli Menunjukkan Ia Punya Fondasi, Bukan Jaminan

Pada akhirnya, angka Vanoli musim lalu memang memberikan alasan untuk optimistis, tetapi bukan jaminan. 38 pertandingan, 14 kemenangan, 11 imbang, 13 kekalahan, 48 gol dan 50 kebobolan adalah statistik keseluruhan masa kerjanya di Fiorentina.

Sementara khusus Serie A, catatannya adalah 28 pertandingan, sembilan kemenangan, 11 imbang, delapan kekalahan, dan 38 poin. Itu merupakan catatan yang cukup bagus untuk pelatih yang mengambil alih tim dalam situasi krisis. Tetapi jika angka tersebut diproyeksikan selama satu musim penuh, 1,36 poin per pertandingan belum menggambarkan performa tim yang secara konsisten mengejar Eropa.

Jadi, keberhasilan Vanoli musim lalu sebaiknya tidak diartikan sebagai bukti bahwa ia sudah menemukan formula Fiorentina. Yang dibuktikannya adalah bahwa ia mampu mengangkat standar minimum tim. Ia membuat Fiorentina berhenti menjadi tim yang terus-menerus kalah. Sekarang ia harus membuktikan bahwa ia bisa membuat Fiorentina menjadi tim yang lebih sering menang.

14. Dari Pemadam Kebakaran Menjadi Arsitek

Inilah inti dari kembalinya Paolo Vanoli. Pada periode pertama, Vanoli adalah pemadam kebakaran. Ia datang ketika Fiorentina sedang terbakar, memadamkan api, menstabilkan situasi, dan memastikan klub tidak terdegradasi. Sekarang ia kembali dengan tugas yang jauh lebih rumit. Ia harus membangun. Fiorentina yang diwarisinya memiliki De Gea, Fagioli, Ranieri, Dodô, dan beberapa pemain lain yang sudah mengenal klub. Namun, pada saat yang sama, ia harus mengintegrasikan pemain-pemain baru dengan karakter berbeda dan menggantikan kontribusi Kean, Guðmundsson, Mandragora, serta pemain-pemain lain yang tidak lagi berada dalam skuad.

Artinya, pekerjaan Vanoli kali ini bukan sekadar menyelamatkan Fiorentina dari zona degradasi. Ia harus menciptakan identitas. Jika ia hanya membuat Fiorentina sulit kalah, itu mungkin cukup untuk mencegah krisis. Namun, jika ia mampu membuat Fiorentina lebih agresif tanpa kehilangan keseimbangan, meningkatkan produktivitas tanpa mengorbankan pertahanan, serta membuat pemain-pemain baru memahami perannya dengan cepat, maka Vanoli jilid kedua dapat menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar nostalgia.

15. Pertandingan Pertama Akan Menjadi Petunjuk

Vanoli akan memulai periode keduanya dengan menghadapi Venezia. Lawan tersebut juga berada dalam situasi sulit setelah mengawali musim tanpa poin, sehingga pertandingan ini menjadi ujian awal yang menarik bagi Fiorentina. Tetapi pertandingan pertama tidak seharusnya dinilai hanya berdasarkan skor.

Fiorentina menang 1-0 tetapi tetap kacau dalam transisi? Masalah belum selesai. Fiorentina imbang 1-1 tetapi mampu mengontrol pertandingan dan menciptakan struktur yang jauh lebih jelas? Itu bisa menjadi pertanda positif. Fiorentina kalah tetapi terlihat lebih terorganisasi dan mampu menciptakan peluang? Vanoli mungkin sudah mulai memperbaiki fondasi. Yang harus dicari bukan hanya hasil, tetapi perubahan perilaku tim.

Apakah jarak antarlini lebih pendek? Apakah pemain memahami siapa yang harus menekan? Apakah Fiorentina mampu keluar dari tekanan dengan lebih baik? Apakah Beto mendapatkan suplai bola yang cukup? Apakah Mastantuono mendapatkan kebebasan tanpa membuat struktur pertahanan runtuh? Apakah Fagioli memiliki cukup opsi untuk mengalirkan bola ke depan? Dan yang paling penting, apakah Fiorentina terlihat seperti sebuah tim?

16. Jadi, Apakah Vanoli Bisa Mengulang Keberhasilannya?

Jawabannya adalah bisa, tetapi keberhasilan yang harus ia ulangi bukanlah keberhasilan yang sama. Musim lalu, Vanoli berhasil membawa Fiorentina keluar dari jurang degradasi dengan rata-rata 1,36 poin per pertandingan di Serie A setelah mengambil alih tim di tengah krisis. Ia mengubah tim yang sebelumnya sulit menang menjadi tim yang mampu mengumpulkan poin secara konsisten.

Namun, Fiorentina musim ini memiliki persoalan yang berbeda. Mereka kehilangan sumber gol utama seperti Kean. Mereka kehilangan kreativitas Guðmundsson. Mereka kehilangan kontribusi lini kedua Mandragora. Mereka kehilangan beberapa pemain yang sudah memahami sistem Vanoli. Sebagai gantinya, klub menghadirkan generasi baru pemain dengan profil berbeda. Karena itu, tugas Vanoli bukan menghidupkan kembali Fiorentina 2025/26. Tugasnya adalah menciptakan Fiorentina 2026/27. Dan mungkin inilah ujian sebenarnya bagi Vanoli sebagai pelatih.

Jika ia kembali berhasil, kita tidak lagi bisa menyebutnya sekadar sebagai pelatih yang pandai menyelamatkan tim dari krisis. Ia akan membuktikan bahwa dirinya juga mampu membangun proyek dengan pemain yang berbeda, tekanan yang berbeda, serta target yang lebih tinggi. Namun, jika ia gagal, maka Fiorentina harus mulai mempertanyakan sesuatu yang lebih besar daripada kursi pelatih. Apakah masalah mereka memang selalu berada di tangan pelatih? Atau justru klub belum memiliki arah proyek olahraga yang cukup konsisten untuk memberikan kesempatan kepada seorang pelatih berkembang?

Musim lalu, Paolo Vanoli adalah orang yang datang ketika Fiorentina membutuhkan penyelamat. Musim ini, ia kembali ketika Fiorentina membutuhkan seorang pembangun. Dulu ia diminta memadamkan api. Sekarang ia diminta membangun rumah. Dan ukuran keberhasilan Vanoli kali ini bukan lagi sekadar apakah Fiorentina selamat dari degradasi, melainkan apakah untuk pertama kalinya setelah sekian lama La Viola akhirnya tahu ingin menjadi tim seperti apa. (Sumber: Artikel @amieykha Foto @paolovanoli.official) 

Comments

  OR  
2 Comments
Sort by