ViolaClubINA - Paolo Vanoli kembali ke Fiorentina setelah Fabio Grosso dipecat hanya 3 pertandingan memasuki Serie A 2026/27. Ia memang pernah menyelamatkan La Viola dari ancaman degradasi, tetapi kali ini ia menghadapi persoalan yang jauh berbeda. Skuadnya telah berubah drastis, sumber gol utama musim lalu telah pergi, dan tuntutan klub kini tidak lagi sekadar bertahan di Serie A.
Fiorentina kembali kepada sosok yang beberapa bulan lalu meninggalkan klub dengan status sebagai penyelamat. Paolo Vanoli resmi ditunjuk kembali sebagai pelatih La Viola setelah Fabio Grosso diberhentikan menyusul 3 kekalahan beruntun pada awal Serie A 2026/27. Grosso hanya bertahan dalam 4 pertandingan kompetitif, dengan 1 kemenangan di Coppa Italia dan 3 kekalahan di Serie A. 3 kekalahan tersebut datang secara beruntun dari AS Roma dengan skor 4-0, Frosinone 0-3, dan Torino 1-2. Fiorentina hanya mencetak 1 gol dan kebobolan 9 dalam 3 pertandingan liga tersebut.
Keputusan memanggil kembali Vanoli terlihat logis jika dilihat dari situasi darurat yang sedang dihadapi Fiorentina. Pelatih asal Varese tersebut sudah mengenal klub, lingkungan kerja, sejumlah pemain, serta tekanan yang datang dari Artemio Franchi. Yang paling penting, ia memiliki pengalaman langsung mengangkat Fiorentina dari situasi yang jauh lebih buruk.
Vanoli pertama kali mengambil alih Fiorentina pada 7 November 2025 setelah Stefano Pioli diberhentikan. Saat itu, Fiorentina sedang terpuruk dan belum meraih kemenangan dalam 10 pertandingan Serie A. Vanoli kemudian mengubah arah musim tersebut dan membawa Fiorentina finis di posisi ke-15. Ia juga membawa La Viola hingga perempat final Conference League sebelum akhirnya disingkirkan Crystal Palace, yang kemudian menjadi juara kompetisi tersebut.
Namun, ada satu hal yang sangat penting untuk dipahami sebelum terlalu jauh menganggap penunjukan Vanoli sebagai solusi otomatis. Vanoli memang kembali ke Fiorentina, tetapi Fiorentina yang diwarisinya sekarang bukan Fiorentina yang ia selamatkan musim lalu. Inilah perbedaan terbesar yang harus menjadi dasar dalam menilai Vanoli jilid kedua.
1. Angka Vanoli Musim Lalu: Bagus, tetapi Harus Dibaca dalam Konteks
Mari mulai dari angka yang paling sering digunakan untuk menggambarkan keberhasilan Vanoli. Dalam masa kerja pertamanya yang berlangsung sekitar 7 bulan, Vanoli menangani Fiorentina dalam 38 pertandingan di semua kompetisi. Rekornya adalah 14 kemenangan, 11 hasil imbang, dan 13 kekalahan. Fiorentina mencetak 48 gol dan kebobolan 50 gol selama periode tersebut. Rata-rata produktivitas tim mencapai 1,26 gol per pertandingan, sedangkan rata-rata kebobolan berada di angka 1,32 gol per pertandingan. Rata-rata perolehan poinnya mencapai 1,39 per pertandingan.
Angka tersebut perlu dipisahkan dari statistik khusus Serie A. Di liga, Vanoli menangani Fiorentina dalam 28 pertandingan, dengan catatan 9 kemenangan, 11 imbang, dan 8 kekalahan. Dari 28 pertandingan tersebut, ia mengumpulkan 38 poin, atau rata-rata sekitar 1,36 poin per pertandingan. Jika ritme tersebut dipertahankan sepanjang 38 giornata, proyeksinya berada di kisaran 51-52 poin.
Ini merupakan peningkatan yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan kondisi ketika ia datang. Namun, statistik tersebut juga menunjukkan bahwa Vanoli bukanlah pelatih yang tiba-tiba mengubah Fiorentina menjadi mesin kemenangan. Rekornya di Serie A adalah 9 kemenangan berbanding 11 hasil imbang dan 8 kekalahan. Artinya, kekuatan utama Vanoli lebih terlihat pada kemampuannya menghentikan kekalahan dan membuat Fiorentina kembali kompetitif, bukan membuat tim memenangkan pertandingan secara dominan.
Dan justru itulah konteks yang membuat pekerjaannya musim lalu patut diapresiasi. Fiorentina tidak membutuhkan pelatih yang membawa mereka mengejar Scudetto. Mereka membutuhkan seseorang yang mampu menghentikan spiral negatif. Vanoli melakukannya.
2. Fiorentina Musim Lalu Memang Tidak Produktif
Jika melihat keseluruhan musim 2025/26, Fiorentina mencetak 41 gol dan kebobolan 50 gol dalam 38 pertandingan Serie A, dengan sembilan kemenangan, 15 imbang, dan 14 kekalahan. Mereka finis di posisi ke-15 dengan 42 poin. Angka tersebut memberikan gambaran yang lebih jujur tentang tim yang ditangani Vanoli. Fiorentina bukan tim dengan serangan produktif. Mereka rata-rata hanya mencetak 1,08 gol per pertandingan sepanjang musim. Sebaliknya, mereka kebobolan 1,32 gol per laga. Selisih gol mereka mencapai minus 9.
Akan tetapi, ketika Vanoli mengambil alih, persoalannya bukan sekadar jumlah gol. Fiorentina kehilangan kepercayaan diri. Tim kesulitan memenangkan pertandingan, tekanan terus meningkat, dan posisi di klasemen membuat setiap pertandingan terasa seperti pertandingan hidup-mati. Dalam kondisi seperti itu, Vanoli berhasil mengembalikan sesuatu yang lebih mendasar: kemampuan Fiorentina untuk mengumpulkan poin secara konsisten.
Delapan hasil imbang dalam 28 pertandingan Serie A di bawah Vanoli memang menunjukkan bahwa Fiorentina tidak selalu mampu mengubah performa menjadi kemenangan. Namun, sembilan kemenangan dan hanya delapan kekalahan juga menunjukkan bahwa tim sudah jauh lebih stabil dibandingkan periode awal musim. Dengan kata lain, Vanoli memperbaiki lantai performa Fiorentina, tetapi belum membangun plafonnya. Dan itu menjadi sangat penting untuk musim 2026/27.
3. Vanoli Musim Lalu Memiliki Fondasi yang Sekarang Hilang
Kesalahan terbesar jika menganalisis Vanoli jilid kedua adalah menganggap bahwa ia tinggal mengulangi formula yang sama. Tidak sesederhana itu. Ketika Vanoli datang pada November 2025, ia memang mendapatkan tim yang sedang kacau. Namun, ia juga mendapatkan sejumlah pemain yang sudah menjadi bagian dari struktur Fiorentina sejak awal musim.
David De Gea masih berada di bawah mistar. Di belakang terdapat Luca Ranieri, Marin Pongračić, Pietro Comuzzo, dan Dodô. Di lini tengah terdapat Nicolò Fagioli dan Rolando Mandragora. Di depan, Vanoli memiliki Moise Kean dan Albert Guðmundsson sebagai dua pemain yang dapat menjadi pusat produksi serangan.
Kerangka tersebut memberi Vanoli sebuah keuntungan yang tidak dimilikinya sekarang: waktu kebersamaan antarpemain. Salah satu contoh terlihat ketika Fiorentina menghadapi Hellas Verona pada Desember 2025. Vanoli menggunakan struktur 3-5-2 dengan De Gea, Pongračić, Comuzzo, Ranieri, Dodô, Mandragora, Fagioli, Simon Sohm, Fabiano Parisi, Guðmundsson, dan Kean sebagai starter. Itu adalah kombinasi yang memperlihatkan bagaimana Vanoli memiliki pemain-pemain yang sudah saling mengenal dan memahami karakter satu sama lain. Situasi tersebut sekarang berubah secara fundamental.
4. Kehilangan Kean Bukan Sekadar Kehilangan Seorang Striker
Salah satu perubahan terbesar terjadi di lini depan. Moise Kean menjadi pencetak gol terbanyak Fiorentina di Serie A 2025/26 dengan 8 gol dan 1 assist dalam 26 penampilan. Dalam tujuh pertandingan Conference League, ia juga mencetak 1 gol dan 4 assist. Angka 8 gol Serie A memang tidak terlihat luar biasa jika berdiri sendiri. Namun, konteks Fiorentina membuatnya sangat penting. Fiorentina hanya mencetak 41 gol sepanjang musim Serie A. Delapan gol Kean berarti sekitar 19,5 persen dari seluruh gol Fiorentina di liga.
Lebih dari itu, Kean merupakan titik referensi utama ketika Fiorentina membutuhkan jalan keluar dari tekanan. Kemampuannya bermain sebagai target, menyerang ruang, memenangkan duel fisik, dan menjadi tujuan serangan langsung membuatnya memiliki fungsi yang lebih besar daripada sekadar pencetak gol. Karena itu, ketika Kean pergi, Vanoli bukan hanya kehilangan seorang striker.
Ia kehilangan fungsi taktis. Beto atau Mateo Pellegrino tidak dapat begitu saja dimasukkan ke dalam sistem lalu diharapkan melakukan semua pekerjaan yang sama. Vanoli harus menciptakan mekanisme serangan yang berbeda berdasarkan karakter penyerang yang tersedia. Ini merupakan salah satu tantangan terbesar pada periode keduanya.
[Baca juga : Paolo Vanoli Kembali ke Fiorentina, Hanya 3 Bulan Setelah Pergi: Misi Balas Dendam atau Jalan Terakhir La Viola?]
5. Guðmundsson dan Mandragora Juga Meninggalkan Lubang
Masalah yang sama terjadi di belakang penyerang. Albert Guðmundsson mencetak 5 gol dan empat assist di Serie A pada musim 2025/26. Di semua kompetisi, ia mencetak 10 gol dan menjadi salah satu pemain paling produktif Fiorentina. Guðmundsson memiliki peran yang sulit digantikan secara langsung. Ia dapat bergerak di antara lini, turun menerima bola, membawa bola ke depan, menciptakan peluang, dan masuk ke kotak penalti. Jika Vanoli menggantikannya dengan pemain yang secara posisi terlihat sama, belum tentu fungsi tersebut kembali.
Hal serupa berlaku untuk Rolando Mandragora. Dalam data semua kompetisi Fiorentina 2025/26, Mandragora mencatat 7 gol dan 3 assist. Di Serie A, ia menjadi salah satu sumber gol penting dari lini kedua. Kehilangan Mandragora berarti Fiorentina tidak hanya kehilangan gelandang pekerja keras. Mereka juga kehilangan sumber kontribusi gol dari lini kedua dan pemain yang memahami struktur permainan Vanoli. Jika Kean, Guðmundsson, dan Mandragora dilihat bersama, kita bisa memahami betapa besar perubahan yang harus dihadapi Vanoli. Ia kehilangan pemain yang menyumbang gol dari tiga zona berbeda: penyerang utama, pemain di belakang penyerang, dan gelandang.
6. Sekarang Vanoli Harus Menciptakan Distribusi Gol Baru
Inilah alasan mengapa kedatangan pemain seperti Beto, Franco Mastantuono, Pedro Gonçalves, Wilfried Gnonto, dan Mateo Pellegrino menjadi sangat penting. Fiorentina tidak bisa mencari satu pemain untuk menggantikan seluruh kontribusi pemain yang pergi. Mereka harus membangun distribusi produksi gol baru. Beto mungkin menjadi sumber utama gol dari posisi nomor 9. Mastantuono bisa memberikan kreativitas dari sisi kanan sekaligus masuk ke area tengah. Pedro Gonçalves menawarkan kemampuan bermain di antara lini. Gnonto memberikan kecepatan dan kemampuan membawa bola. Jika kombinasi tersebut berhasil, Fiorentina justru dapat memiliki serangan yang lebih beragam dibandingkan musim lalu. Namun, itu membutuhkan waktu. Dan waktu merupakan sesuatu yang tidak terlalu banyak dimiliki Vanoli.
7. Masalahnya Bukan Lagi Sekadar Taktik, tetapi Chemistry
Inilah bagian yang sering dilupakan ketika sebuah klub melakukan transfer besar-besaran. Fiorentina dapat memiliki pemain yang secara individu lebih berkualitas daripada musim lalu, tetapi hal itu tidak otomatis membuat mereka menjadi tim yang lebih baik. Sepak bola adalah permainan hubungan. Bek tengah harus mengetahui kapan bek sayap maju. Gelandang harus mengetahui kapan turun membantu pertahanan. Winger harus memahami kapan mempertahankan lebar lapangan dan kapan masuk ke half-space. Penyerang harus memahami kapan turun menerima bola dan kapan berlari di belakang garis pertahanan. Semua itu membutuhkan repetisi. Musim lalu, Vanoli tidak perlu membangun seluruh hubungan tersebut dari awal. Sekarang, ia harus melakukannya. Inilah paradoks terbesar dari Vanoli jilid kedua: skuadnya bisa saja memiliki potensi individu lebih tinggi, tetapi kohesinya belum tentu lebih tinggi.
8. Fagioli Menjadi Salah Satu Kepingan Terpenting
Dalam situasi tersebut, Nicolò Fagioli bisa menjadi pemain yang sangat penting. Fagioli merupakan salah satu pemain yang masih berada di klub dari periode Vanoli sebelumnya. Dalam semua kompetisi 2025/26, ia mencatat 33 penampilan, 30 kali menjadi starter, 2 gol, dan 3 assist.
Angka tersebut mungkin tidak terlalu mencolok jika dibandingkan dengan statistik pemain ofensif. Namun, peran Fagioli lebih penting daripada sekadar kontribusi gol. Ia dapat menjadi penghubung antara fase pertama pembangunan serangan dan lini depan. Ketika Fiorentina kehilangan Mandragora, kebutuhan terhadap pemain yang mampu menjaga sirkulasi bola dan menghubungkan lini tengah dengan pemain ofensif semakin besar.
Vanoli harus menemukan pasangan yang tepat untuk Fagioli. Arthur Atta, Cher Ndour, Marco Brescianini, dan Christ Inao Oulaï memberikan karakter yang berbeda, tetapi belum tentu memberikan fungsi yang sama seperti Mandragora. Ini membuat pemilihan komposisi lini tengah menjadi salah satu keputusan paling menentukan bagi Vanoli. (Sumber: Artikel @amieykha Foto goal.com)






