ViolaClubINA - Keputusan Fiorentina untuk menyudahi kerja sama dengan Fabio Grosso hanya dalam tempo tiga laga Serie A tidak hanya menjadi kejutan awal musim, tetapi juga membuka tabir kekacauan di balik layar klub asal Florence tersebut. Sebagai pelatih pertama yang dipecat di musim ini, kepergian mantan pahlawan Piala Dunia itu mencatatkan pergantian pelatih permanen ke-10 sepanjang era kepemimpinan keluarga Commisso. Langkah drastis ini sekaligus menjadi panggung sorotan tajam bagi Direktur Olahraga Fabio Paratici, sosok yang sejatinya didatangkan usai berpulangnya Rocco Commisso tahun lalu untuk membawa stabilitas dan arah baru bagi La Viola. Namun, dinamika yang terjadi belakangan ini justru menunjukkan situasi yang jauh dari kata tenang.
Keretakan antara Grosso dan manajemen disinyalir berakar dari strategi di bursa transfer. Kendati Paratici menggelontorkan dana besar demi merombak skuad, pergerakan transfer untuk lini serang dinilai terlampau lambat. Ketergantungan pada pemain muda pinjaman Franco Mastantuono serta Albert Guðmundsson di awal musim membuat racikan strategi Grosso tidak berjalan optimal, mengingat kesuksesannya saat menukangi Sassuolo sangat bertumpu pada kualitas sektor sayap. Kehadiran deretan nama baru seperti Alieu Njie, Wilfried Gnonto, hingga Pedro Gonçalves di detik-detik akhir bursa transfer pun tak mampu meredam kekecewaan sang pelatih, yang mengeluhkan minimnya waktu untuk menyatukan visi bertanding seluruh kedatangan baru tersebut.
Puncak ketegangan berujung pada laporan percakapan terakhir yang diwarnai frustrasi mendalam. Grosso dikabarkan sempat melabeli skuad yang dimilikinya tidak dapat dilatih dan secara tegas menolak untuk memimpin latihan jika tidak segera dibebastugaskan. Di sisi lain, manajemen Fiorentina kini bahkan mempertimbangkan langkah hukum atas dugaan pelanggaran kewajiban kontrak oleh sang juru taktik. Situasi pelik ini seolah mengulang skenario negosiasi alot yang pernah terjadi dengan Stefano Pioli kurang dari satu tahun lalu, sekaligus menegaskan tingginya tekanan internal klub di tengah kebijakan Paratici yang berambisi memangkas beban gaji pemain.
[Baca juga : Fiorentina Lepas 5 Pemain Sekaligus, Ada Mandragora hingga Moise Kean!]
Di tengah badai manajemen dan kekecewaan publik, Fiorentina mengambil langkah cepat dengan mengembalikan tampuk kepemimpinan tim kepada Paolo Vanoli. Sosok yang sebelumnya sukses menyelamatkan tim dari ancaman degradasi musim lalu itu kembali hadir membawa aura positif. Efek instan kembalinya Vanoli langsung terasa saat La Viola memetik kemenangan krusial 4-2 di kandang Venezia. Tiga gol dari Franco Mastantuono dan satu gol penentu momentum dari Mateo Pellegrino seolah menjadi sinyal awal kebangkitan mental bertanding para pemain muda Fiorentina.
Kendati berhasil menandai debu kembalinya dengan hasil manis, Vanoli enggan jumawa dan menegaskan bahwa proses pembentukan tim masih berada di tahap awal. Bagi sang allenatore, fokus utama saat ini adalah membenahi pola pikir seluruh elemen skuad serta membangun kembali fondasi kolektif. Kemenangan atas Venezia dipandang sebagai langkah awal untuk merebut kembali kepercayaan para pendukung setia di Artemio Franchi. Kini, publik Florence menanti apakah kembalinya Vanoli mampu membawa kestabilan jangka panjang atau sekadar menjadi penawar sementara di tengah perombakan besar-besaran Fiorentina. (Sumber: Artikel football-italia.net | Foto @riccardosottil )






