Sign Up
Cover

Di Balik Belanja Besar Fiorentina, Ada Satu Keputusan yang Mulai Membuat Suporter Resah

ACF Fiorentina

Selasa, 4 Agustus 2026

ViolaClubINA Kedatangan Fabio Paratici sebagai direktur olahraga baru Fiorentina langsung menghadirkan perubahan besar dalam komposisi skuad. Dalam waktu singkat, sejumlah pemain baru didatangkan untuk memperkuat tim yang dinilai membutuhkan penyegaran setelah menjalani musim yang kurang memuaskan. Namun, di balik agresivitas klub di bursa transfer, muncul satu kebijakan yang mulai memunculkan tanda tanya besar di kalangan suporter: gelombang kepergian para pemain muda binaan akademi.

Fenomena hengkangnya pemain akademi sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi Fiorentina. Selama klub belum memiliki tim U-23 atau tim B yang berkompetisi secara profesional, banyak pemain muda harus mencari jalan lain demi mendapatkan menit bermain. Sebagian besar memang tidak pernah berhasil menembus tim utama, sementara hanya segelintir yang mampu mengikuti jejak Luca Ranieri, yang harus melalui beberapa masa peminjaman sebelum akhirnya menjadi bagian penting skuad senior. Sebaliknya, banyak talenta potensial berakhir meninggalkan Florence tanpa pernah benar-benar memperoleh kesempatan menunjukkan kemampuan mereka di level tertinggi.

Bagi klub, keputusan melepas pemain muda mungkin merupakan bagian dari strategi bisnis yang rasional. Namun, bagi suporter, pemain akademi memiliki nilai yang jauh melampaui aspek teknis di atas lapangan. Mereka adalah simbol keberhasilan pembinaan klub sekaligus representasi hubungan emosional antara Fiorentina dan kota Florence. Melihat seorang pemain yang tumbuh bersama akademi, kemudian mengenakan seragam tim utama, selalu menghadirkan kebanggaan tersendiri yang sulit digantikan oleh pemain hasil transfer, seberapa besar pun nama yang datang.

Dalam beberapa tahun terakhir, akademi Fiorentina justru menjadi salah satu sektor paling sukses di bawah kepemimpinan Rocco Commisso. Tim Primavera berhasil meraih Scudetto pertama dalam 43 tahun di bawah arahan Daniele Galloppa, melengkapi koleksi empat Coppa Italia Primavera dan dua Supercoppa Primavera sejak musim 2019-2020. Dari akademi tersebut juga lahir berbagai pemain yang kini berkarier di level profesional, mulai dari Federico Chiesa, Michael Kayode, Jan Mlakar, hingga sederet talenta lain seperti Daniele Ghilardi, Edoardo Pierozzi, dan Costantino Favasuli. Ketika performa tim utama mengalami pasang surut, keberhasilan sektor pembinaan menjadi salah satu sumber optimisme bagi para pendukung La Viola.

Ironisnya, justru pada saat akademi menunjukkan hasil positif, Fiorentina memilih membuka pintu keluar bagi banyak pemain mudanya. Lorenzo Amatucci, Alessandro Bianco, dan Jonas Harder telah dilepas secara permanen. Sementara itu, Maat Daniel Caprini, Eddy Kouadio, dan Tommaso Martinelli dipinjamkan dengan opsi pembelian yang relatif terjangkau, meski Fiorentina masih mempertahankan klausul pembelian kembali. Tidak berhenti di situ, nama-nama seperti Pietro Comuzzo, Nicolò Fortini, Luis Balbo, Lapo Deli, dan Riccardo Braschi juga terus dikaitkan dengan kemungkinan hengkang pada bursa transfer musim panas ini.

Situasi tersebut terasa berbeda dibandingkan perputaran pemain akademi yang biasa terjadi setiap musim. Beberapa pemain yang berpotensi pergi sebenarnya telah menunjukkan perkembangan yang menjanjikan. Pietro Comuzzo, misalnya, telah membuktikan kemampuannya bersaing di Serie A. Sementara Martinelli, Fortini, Amatucci, Kouadio, hingga Balbo dinilai hanya tinggal selangkah lagi untuk memperoleh kesempatan lebih besar di tim utama. Pada musim-musim sebelumnya, pemain-pemain seperti ini umumnya tetap dipertahankan sebagai pelapis skuad sambil menunggu peluang akibat rotasi, cedera, atau padatnya jadwal pertandingan. Bahkan bukan tidak mungkin salah satu di antaranya mampu mengikuti jejak Michael Kayode yang sukses mencuri perhatian beberapa musim lalu.

[Baca juga :  Fiorentina Femminile Langsung Tancap Gas! Sekaligus Amankan Masa Depan Talenta Muda]

Dari sisi finansial, kebijakan tersebut juga menimbulkan pertanyaan. Para lulusan akademi yang baru mendapatkan kontrak profesional umumnya menerima gaji yang relatif rendah dibandingkan pemain senior. Jika Fiorentina memang berupaya menekan beban pengeluaran, mempertahankan pemain akademi sebagai pelapis justru bisa menjadi solusi yang lebih ekonomis. Selain menghemat anggaran, mereka juga dapat memberikan kedalaman skuad tanpa membebani struktur penggajian klub secara signifikan.

Pilihan untuk lebih sering menggunakan klausul persentase penjualan kembali daripada klausul pembelian kembali juga memunculkan perdebatan. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak klub besar memilih mempertahankan hak untuk merekrut kembali pemain muda yang berkembang pesat di klub lain. Fiorentina sendiri pernah menerapkan skema tersebut dalam beberapa negosiasi transfer sebelumnya. Oleh karena itu, keputusan melepas pemain dengan peluang kontrol yang lebih kecil terhadap masa depan mereka dianggap cukup berisiko apabila salah satu di antaranya berkembang menjadi pemain berkualitas tinggi.

Di sisi lain, kebijakan ini juga berpotensi memengaruhi fleksibilitas skuad. Regulasi Serie A mengharuskan setiap klub memiliki minimal empat pemain binaan akademi dalam daftar 25 pemain utama. Apabila sejumlah nama yang saat ini masih berstatus pemain akademi benar-benar hengkang, Fiorentina berpotensi hanya menyisakan sedikit pemain yang memenuhi kriteria tersebut. Akibatnya, klub mungkin harus rutin memasukkan pemain Primavera ke dalam daftar pertandingan untuk memenuhi persyaratan administrasi kompetisi. Masalah ini memang belum terlalu mendesak selama Fiorentina hanya berkompetisi di ajang domestik. Namun, apabila La Viola kembali lolos ke kompetisi Eropa musim depan, aturan UEFA mengenai pemain binaan akademi bahkan lebih ketat sehingga tantangan tersebut bisa menjadi jauh lebih kompleks.

Tentu masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa strategi Fabio Paratici merupakan sebuah kesalahan. Bisa saja ia bersama jajaran manajemen telah melakukan evaluasi menyeluruh dan menilai bahwa nilai jual para pemain muda tersebut sedang berada pada titik tertinggi. Menjual mereka sekarang mungkin dianggap sebagai langkah paling menguntungkan sebelum perkembangan mereka mengalami stagnasi. Dengan pengalaman panjang yang dimiliki Paratici dalam membangun skuad kompetitif, bukan tidak mungkin seluruh keputusan ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang yang telah disusun secara matang.

Meski demikian, kekhawatiran di kalangan suporter tetap dapat dipahami. Fiorentina sedang mengeluarkan investasi besar untuk mendatangkan wajah-wajah baru, tetapi di saat yang sama justru mengurangi jumlah pemain muda yang selama ini diproyeksikan menjadi fondasi masa depan klub. Jika strategi tersebut berhasil membawa La Viola kembali bersaing di papan atas Serie A dan tampil konsisten di kompetisi Eropa, keputusan tersebut tentu akan dinilai sebagai langkah visioner. Namun, apabila hasil yang diharapkan gagal tercapai, gelombang kepergian para talenta akademi musim panas ini berpotensi dikenang sebagai salah satu keputusan paling kontroversial dalam era baru Fiorentina. (Sumber: Artikel violanation.com | Foto  @acffiorentina ) 

Comments

  OR  
0 Comments
Sort by 
No comment yet