ViolaClubINA - Saat ACF Fiorentina memutuskan memecat Stefano Pioli pada November 2025, situasi klub benar-benar sudah di ambang kehancuran. Fiorentina bukan sekadar tampil buruk, tetapi mengalami salah satu start terburuk dalam sejarah modern klub. Dalam 10 pertandingan awal Serie A, La Viola hanya mengoleksi 4 poin, tanpa kemenangan, dengan rata-rata hanya 0,4 poin per pertandingan. Mereka berada di dasar klasemen Serie A, disertai protes tifosi di Artemio Franchi dan tekanan media yang luar biasa besar.
Masalah Fiorentina saat itu sebenarnya jauh lebih kompleks daripada sekadar hasil pertandingan. Secara statistik, tim ini mengalami kehancuran total di dua area fundamental: efektivitas menyerang dan organisasi bertahan. Sampai pekan ke-15 Serie A, Fiorentina belum memenangkan satu pertandingan pun. Mereka mencetak gol sangat sedikit dibanding kualitas peluang yang diciptakan, sementara lini belakang menjadi salah satu pertahanan paling rapuh di liga. Bahkan mereka tercatat sebagai salah satu tim dengan kebobolan terbanyak dari situasi bola mati di Serie A musim 2025/26.
Kondisi tersebut membuat banyak pihak percaya Fiorentina akan pasti terdegradasi. Di Reddit komunitas Serie A bahkan muncul statistik mengerikan: dalam sejarah Serie A, tidak ada tim yang gagal menang dalam 13 laga awal lalu berhasil selamat dari degradasi. Fiorentina melewati angka itu hingga 15 pertandingan tanpa kemenangan. Banyak tifosi mulai menerima kenyataan bahwa mereka akan turun kasta ke Serie B.
Di titik itulah Paolo Vanoli masuk menggantikan Pioli. Ironisnya, kedatangannya pun tidak langsung membawa hasil instan. Dalam beberapa pertandingan awal, Fiorentina masih terlihat kacau secara mental. Pemain terlalu mudah panik ketika unggul, koordinasi bertahan buruk, dan transisi negatif menjadi bencana di hampir setiap pertandingan. Bahkan menurut analisis Viola Nation, Fiorentina menjadi salah satu tim terburuk Serie A dalam mengelola menit-menit akhir pertandingan. Mereka hanya mencetak 3 gol pada fase akhir laga, tetapi kebobolan 9 kali di periode yang sama. Artinya, secara mental mereka hampir selalu runtuh ketika berada di bawah tekanan.
Namun perlahan, Vanoli mulai mengubah struktur permainan Fiorentina. Awalnya ia mempertahankan formasi favoritnya 3-5-2, tetapi melihat skuad yang tidak cocok dengan sistem tersebut, Vanoli melakukan perubahan besar pada Desember dengan beralih ke 4-3-3. Keputusan ini menjadi titik balik musim Fiorentina. Dalam 14 pertandingan setelah pergantian sistem, Fiorentina mengoleksi 23 poin, atau rata-rata 1,64 poin per pertandingan. Sebagai perbandingan, di era Pioli mereka hanya meraih rata-rata 0,4 poin per laga. Bahkan dalam rentang performa tersebut, Fiorentina sebenarnya bermain dengan ritme tim papan tengah Serie A.
Perubahan terbesar Vanoli terlihat dari peningkatan agresivitas dan efektivitas permainan. Sebelum pergantian taktik, Fiorentina terlalu lambat membangun serangan dan sering kehilangan bola di area tengah. Setelah beralih ke 4-3-3, permainan mereka menjadi jauh lebih vertikal. Pressing meningkat, progresi bola lebih cepat, dan mereka mulai mampu menyerang lewat half-space secara efektif. Dampaknya langsung terasa pada produktivitas tim. Fiorentina yang sebelumnya sangat kesulitan mencetak gol akhirnya mulai menemukan ritme serangan.
Momen paling simbolis terjadi saat Fiorentina menghancurkan Udinese dengan skor 5-1 pada akhir Desember. Itu bukan sekadar kemenangan pertama musim ini, tetapi juga kemenangan yang mengubah psikologi seluruh skuad. Setelah laga tersebut, performa Fiorentina meningkat drastis. Bahkan komunitas tifosi di Reddit menyebut Vanoli sebagai sosok yang “membawa Fiorentina kembali dari kematian”.
[Baca juga : AS Roma Ikut Memburu Moise Kean, Fiorentina Siap Lepas? Harga Fantastis dan Skema Tukar Pemain Jadi Sorotan ]
Jika melihat statistik akhir Serie A, angka Fiorentina memang masih terlihat buruk untuk ukuran klub sebesar mereka. Mereka menutup musim dengan rekor 9 kemenangan, 14 imbang, dan 14 kekalahan. Total poin mereka hanya 41 dengan rata-rata 1,11 poin per pertandingan. Fiorentina mencetak 40 gol dan kebobolan 49 kali dengan selisih gol -9, lalu finis di posisi ke-15 Serie A. Namun statistik itu menjadi jauh lebih menarik ketika dibedah berdasarkan era Pioli dan Vanoli.
Di bawah Vanoli, Fiorentina perlahan berubah dari kandidat degradasi menjadi tim papan tengah. Berdasarkan data Sofascore, Vanoli mencatat rata-rata 1,37 hingga 1,41 poin per pertandingan bersama Fiorentina. Persentase kemenangan kariernya di klub mencapai sekitar 38%, dengan total 14 kemenangan dari 37 pertandingan awal. Untuk konteks tim yang sempat hampir “mati”, angka tersebut sebenarnya sangat impresif.
Menariknya lagi, performa Fiorentina di UEFA Conference League justru jauh lebih baik dibanding Serie A. Di kompetisi Eropa, Vanoli mampu membuat Fiorentina tampil lebih agresif dan berani mengambil risiko. Mereka berhasil mencapai babak perempat final sebelum akhirnya disingkirkan Crystal Palace. Dalam fase knockout Conference League, Fiorentina rata-rata menghasilkan peluang lebih banyak dibanding pertandingan Serie A mereka. Masalah utamanya tetap sama: penyelesaian akhir dan kedalaman skuad. Ketika menghadapi tim dengan kualitas fisik dan transisi cepat seperti Palace, Fiorentina kesulitan menjaga intensitas permainan selama 90 menit.
Sementara di Coppa Italia, perjalanan Fiorentina berakhir cepat setelah tersingkir di babak 16 besar dari Como. Kompetisi ini memperlihatkan masalah utama skuad Vanoli: tidak adanya kedalaman pemain yang cukup untuk rotasi. Ketika jadwal mulai padat, performa Fiorentina langsung menurun drastis.
Secara statistik permainan, Fiorentina era Vanoli sebenarnya mulai menunjukkan identitas yang jelas menjelang akhir musim. Mereka lebih compact saat bertahan, lebih direct ketika menyerang, dan mulai mampu bermain efektif tanpa harus mendominasi penguasaan bola. Bahkan dalam periode setelah kemenangan melawan Udinese, performa poin mereka setara tim posisi 6-7 Serie A jika dihitung hanya dari pertandingan era Vanoli.
Yang membuat kisah ini terasa luar biasa adalah konteks awalnya. Fiorentina bukan sekadar tim yang sedang buruk, melainkan tim yang secara statistik hampir mustahil selamat dari degradasi. Mereka sempat menjalani 15 laga tanpa kemenangan, memiliki salah satu pertahanan terburuk liga, mental pemain runtuh, dan tifosi mulai kehilangan harapan. Namun Paolo Vanoli perlahan mengubah semuanya bukan lewat revolusi besar, melainkan lewat perubahan mentalitas, struktur taktik, dan keberanian mengubah sistem permainan di tengah musim.
Musim 2025/26 memang bukan musim kejayaan bagi Fiorentina. Tidak ada trofi, tidak ada tiket Eropa, bahkan mereka finis di papan bawah. Tetapi jika melihat bagaimana situasi klub saat Vanoli datang, keberhasilan bertahan di Serie A sebenarnya terasa seperti sebuah mukjizat kecil di Firenze. (Sumber: Artikel football-italia.net | Foto @acffiorentina )






